Tari Rejang dan Tari Baris Gede


Membicarakan keberadaan seni pertunjukan tradisional pada saat-saat ini sebenarnya sangat memprihatinkan. Sebab banyak sekali kita baca ataupun kita lihat sendiri, keberadaan seni pertunjukan tradisional sangat mengenaskan. Dalam arti bahwa, dengan derasnya berbagai sarana komunikasi maupun informasi ternyata cukup besar pengaruhnya terhadap keberadaan seni pertunjukan tradisional. Kelompok-kelompok kesenian tradisional mulai menghilang. Hal ini dikarenakan tiadanya faktor penyangga yang baik dalam bentuk dana, kemauan atau regenerasinya. Oleh karena itu mereka tidak dapat bersaing dengan munculnya bentuk-bentuk kesenian modern yang lebih diminati oleh penonton sekarang. Sehingga jika seni pertunjukan tradisional itu dirasa sudah tak berfungsi, dengan sendirinya keberadaannya akan menghilang dari masyarakat pendukungnya.

Tari Rejang dan Baris merupakan salah satu jenis tari dari Bali yang konom merupakan warisan kerajaan Majapahit. Tari Rejang dan Tari Baris merupakan salah satu tarian yang dimiliki rakyat Bali yang mempunyai fungsi ritual. Tari Rejang digunakan masyarakat Bali untuk penyambutan para dewa, sedangkan Tari Baris dibawakan setelah tarian Rejang selesai. Biasanya kedua tari ini ditampilkan pada pacara Piodalan. Pelaksaan tari tradisional inipun juga tidak sembarangan. Pelaksanaan tarian ini memperhitungkan hari yang dianggap baik serta tata cara pelaksanaannya pun juga mendapat perhatian sendiri.

Tari rejang adalah tari wanita di Bali yang memiliki kadar ritual yang sangat tinggi. Tari kelompok ini berfungsi sebagai tari penyambutan kedatangan para dewa yang diundang untuk turun ke pura, yang biasanya lalu disusul dengan Tari Baris. Sedangkan Tari Baris adalah tari putra yang dibawakan oleh kelompok pria dewasa yang biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang usai. Tari Baris dan Tari Rejang biasanya ditampilkan dalam upacara Piodalan. Piodalan merupakan upacara untuk menyambut kedatangan para dewa yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Dharma di Bali untuk memperingati hari kelahiran pura.

Upacara Piodalan biasanya diselenggarakan seputar tiga hari. Pada hari pertama kegiatan ini diselenggarakan di bagian pura jeroan (bagian paling dalam). Dari 20.000 (menurut catatan resmi Pemda Bali 11.000) pura di Bali dalam menyelenggarakan upacara Piodalan menggunakan perhitungan sistem kalender dua macam, yaitu kalender Pawukon yang satu siklusnya berlangsungnya 210 hari dan kalender Saka yang satu siklusnya berlangsung selama 354 hari. Namun demikian sebagian besar dari pura di Bali menggunakan sistem kalender Pawukon. Satu siklus kalender Pawukon terdiri dari 30 wuku, dan satu wuku terdiri dari tujuh hari. Wuku-wuku itu secara urut : (1) Sinta, (2) Landep, (3) Ukir, (4) Kulantir, (5) Taulu, (6) Gumbreg, (7) Wariga, (8) Warigadian, (9) Julungwangi, (10) Sungsang, (11) Dunggulan, (12) Kuningan, (13) Langkir, (14) Medangsia, (15) Pujut, (16) Pahang, (17) Krulut, (18) Merakih, (19) Tambir, (20) Medangkungan, (21) Matal, (22) Uye, (23) Menail, (24) Perangbakat, (25) Bala, (26) Ugu, (27) Wayang, (28) Kelawu, (29) Dukut, dan (30) Watugunung.

Perhitungan lainnya yang juga sangat penting adalah saat yang disebut Tumpek, yang berulang enam kali setiap siklus Pawukon, yang terjadi apabila salah satu hari dari Pancawara bertemu dengan salah satu hari dari Saptawara. Pancawara yaitu perhitungan waktu yang satu minggunya terdiri dari lima hari yaitu Umanis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sedangkan saptawara yaitu perhitungan waktu yang satu minggunya terdiri dari tujuh hari yaitu Redite (Ahad atau Minggu), Coma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Wraspati (Kamis), Sukra (Jum’at), dan Saniscara (Sabtu). Tumpek yang pertama jatuh pada hari Sabtu Wuku Landep, yaitu minggu kedua dari siklus Pawukon. Pada hari itu sesaji harus disediakan untuk senjata-senjata.

Tari Rejang dan Baris ini dilakukan untuk menyambut kedatangan para dewa. Tari Rejang dibawakan dalam bentuk prosesi para wanita dari hampir semua umur, asal mereka dalam keadaan bersih secara spiritual. Penari yang berjumlah seputar empat puluh sampai enam puluh orang itu dengan langkah sederhana serta gerak lengan yang sederhana pula dari luar pura menuju ke bagian paling dalam dari pura yaitu jeroan (bagian pura paling dalam). Di jeroan terdapat sebuah bangunan kecil yang disebut pelinggih, yaitu bangunan untuk menempatkan boneka yang disebut Pratima sebagai media masuknya para dewa. Setelah sampai di depan pelinggih, para penari Rejang yang bergerak berpasang-pasangan itu menari sejenak, kemudian berjongkok serta memberi hormat kepada pratima yang konon telah kemasukan dewa. Silih berganti para penari melakukan gerakan yang sama, dan dalam bentuk prosesi pula mereka meninggalkan jeroan. Tari yang diselenggarakan pada awal sore hari ini diiringi oleh ansambel gamelan Gong Gede yang sangat anggun. Khusus di desa Bali Aga Tenganan tari Rejang diiringi oleh gamelan Salonding.

Setelah tari Rejang selesai dipertunjukkan, kemudian menyusul Tari Baris Gede yang dibawakan oleh sekelompok penari pria dewasa. Ada sementara pakar budaya Bali yang mengatakan bahwa Baris Gede berfungsi sebagai pengawal para dewa ke bumi yang masuk ke Pratima. Tari ini dikatakan sebagai pengawal para dewa oleh karena semua penari membawa senjata seperti tombak, perisai, keris, bahkan di beberapa desa senjata api (I Made Bandem dan Fredrik Eugene deBoer 1980). Nama tari Baris ini selalu disesuaikan dengan senjata yang mereka bawa. Maka dari itu dengan mudah kita mengenal nama-nama itu seperti misalnya Baris Tumbak, Baris Jojor, Baris Tamiang (perisai), Baris Presi (perisai), Baris Bedil (senjata api), dan sebagainya. Busana tari Baris sangat khas, terutama pada penutup kepalanya yang berbentuk kerucut yang dihiasi dengan kulit kerang yaang disusun memenuhi penutup kepala. Para penari mengenakan celana ketat berwarna putih, berbaju lengan panjang yang berwarna putih, serta sekeliling tubuhnya bergantungan kain-kain kecil panjang berperada emas. Di belakang punggung terselip sebilah keris yang menambah kegagahan para penari. Mereka berjalan dengan langkah yang pasti menuju ke jeroan. Setelah sampai di depan pelinggih, mereka berjongkok memberi hormat kepada para dewa yang sudah berada di dalam Pratima. Teriakan yang dilakukan pada waktu berjalan menambah kegagahan tari Baris. Tari yang dianggap sakral ini pada umunya diiringi oleh ansambel gamelan Gong Gede yang sangat anggun. Setelah melakukan penghormatan kepada para dewa, para penari yang terbelah menjadi dua kelompok melakukan adegan perang-perangan.

Setelah usai pertunjukan Rejang dan Baris Gede (gede berarti banyak) pada upacara piodalan ini, pratima-pratima diarak menuju tempat pemandian yang tidak begitu jauh dari pura tempat diselenggarakan piodalan. Para penari Rejang, penari Baris, serta peserta upacara yang lain mengikuti prosesi ini, hingga suasananya menjadi sangat semarak. Berbagai instrumen gamelan juga dibawa untuk mengiringi prosesi pratima-pratima yang ditempatkan di dalam usungan yang indah sekali serta dilindungi oleh payung-payung kebesaran tampak sangat megah. Perjalanan prosesi para dewa di beberapa desa disambut pula dengan berbagai seni pertunjukan, seperti misalnya drama tari wayang wong (Piodalan Pura Tamansari, Gianyar 3 Agustus 1996). Ketika prosesi para dewa yang berada di dalam pratima itu melewati bagian tengah dari pura yaitu jaba tengah, para penari wayang wong berhenti sejenak untuk melakukan penghormatan pula. Arah perjalanan prosesi juga mengikuti konsep arah kaja dan kelod. Kaja merupakan ruangan dalam pura yang menuju arah Gunung Agung, sedangkan Gunung Agung merupakan sebuah tempat yang dianggap suci karena merupakan tempat hunian para dewa, maka arah ini dianggap sakral bagi masyarakat Hindu Dharma. Sedangkan dalam mitologi Hindu Dharma laut dianggap sebagai tempat hunian makhluk-makhluk tidak baik, arah menuju laut ini disebut kelod.

Prosesi para penari wayang wong dalam penghormatan para dewa selalu dari arah kaja menuju ke arah kelod, yaitu dari arah gunung ke arah laut. Seusai upacara pemandian ritual, usungan yang berisi pratima-pratima itu diarak kembali menuju ke jeroan, yang diikuti pula oleh para penari Rejang, Baris, serta para peserta upacara. Ketika melewati jaba tengah, para penari wayang wong juga berhenti lagi bermain. Kemeriahan suasana piodalan terasa sekali oleh adanya penampilan berbagai bentuk pertunjukan pada waktu yang bersamaan. Ketika pertunjukan wayang wong yang merupakan drama tari bertopeng dengan lakon dari wiracarita Ramayana sedang tengah-tengahnya ditampilkan, dari sudut lain beberapa seniman memperagakan seni resitasi yang di Bali disebut Makekawin atau Mabebasan. Hal ini terjadi misalnya pada upacara piodalan di pura Tamansari, desa Mas, kabupaten Gianyar (3 Agustus 1996).

Menurut pendapat dari Ismaun dan Martono (1989/1990: 75) mengatakan bahwa pada dasarnya seni pertunjukan tradisional secara umum mempunyai empat fungsi utama yaitu :

Fungsi ritual

Fungsi pendidikan sebagai media tuntunan

Fungsi/media penerangan atau kritik social

Fungsi hiburan atau tontonan

Sedangkan ciri-ciri seni pertunjukan yang mempunyai fungsi ritual adalah :

Diperlukan tempat pertunjukan yang terpilih yang kadang-kadang dianggap sacral

Diperlukan pemilihan hari serta saat yang terpilih yang biasanya juga dianggap sacral

Diperlukan pemain yang terpilih, biasanya mereka dianggap suci atau yang telah membersihkan diri secara spiritual

Diperlukan seperangkat sesaji yang kadang-kadang sangat banyak jenis dan macamnya

Tujuan lebih dipentingkan daripada penampilan secara estetis, dan

Diperlukan busana yang khas.

Berdasarkan ciri-ciri di atas maka dapat dipastikan bahwasanya tari Rejang dan Baris termasuk seni pertunjukan yang mempunyai fungsi sebagai ritual. Jika dalam ciri-ciri seni pertunjukan ritual yang pertama tempat pertunjukan yang terpilih dan dianggap sakral, maka tari Rejang dan Baris ditampilkan disuatu tempat yang terpilih dan dianggap sakral oleh masyarakat Hindu Dharma yaitu didalam pura, kemudian jika ciri-ciri yang kedua pemilihan hari serta saat yang dipilih sakral, maka hari dimana akan dilaksanankan tari Rejang dan Baris dicari melalui sistem perhitungan kalender Bali dengan segala kerumitannya. Syarat ketiga diperlukan pemain yang terpilih, dalam tari Rejan dan Baris hal ini tercermin dari para pemain yang harus bersih dan suci secara spiritual, jadi tidak semua orang dapat menjadi pemain dalam seni pertunjukan ini.

Keempat,adanya sesaji yang banyak jenisnya, begitu juga dalam ritual tari Rejang dan Baris yang juga menggunakan berbagai macam sesaji yang banyak macamnya dan rumit. Terakhir yaitu busana yang khas. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pakaian para penari Baris Gede sangat khas, mulai dari penutup kepalanya yang berbentuk kerucut dan dihiasi dengan kulit kerang, celana ketat dengan warna putih, baju lengan panjang yang juga berwarna putih, serta sekeliling tubuhnya bergantungan kain-kain kecil panjang berperada emas, di belakang punggung mereka juga terselip sebilah keris, ditambah lagi setiap dari mereka membawa senjata seperti tombak, perisai, keris, atau bahkan senjata api.

 

Sumber:

Daerah Istimewa Yogyakarta : Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Sujarno dkk . 2003. Seni Pertunjukan Tradisional (Nilai, Fungsi dan Tantangannya).

Penulisan dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

R. M. Soedarsono . 1998. Seni Pertunjukan Indonesia Di Era Globalisasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Yoeti, Oka A. 1986. Melestarikan Seni Budaya Tradisional Yang Nyaris Punah. Jakarta :

MIG SHORT TRAVEL
MIG SHORT TRAVEL NGGAK USAH DI BACA NANTI BAPER

Tidak ada komentar untuk "Tari Rejang dan Tari Baris Gede"