Kisah Panji Laras dan Panji Liris : Dari Wanita Melamar Pria Sampai Larangan Menikah antara Orang Lamongan dan Kediri
Pernahkah kalian mendengar salah satu
adat di Lamongan mengenai pra ritual pernikahan yang sangat terkenal?, adat itu
adalah bahwa wanita yang melamar pria. Ini mungkin sangat aneh jika
dikomparasikan dengan adat-adat melamar pada umumnya di semua daerah. Tapi
begitulah adat khas di Lamongan yang sampai saat ini masih dilakukan oleh
masyarakat di beberapa daerah di Lamongan. Adat ini sangat lekat sekali dengan
kehidupan masyarakat Lamongan, khusunya bagi masyarakat yang masih melestarikan
cara-cara tersebut sampai saat ini. Cara-cara tradisional tersebut bukan tanpa
sebab, tapi adat tersebut juga lekat dengan mitos atau legenda pada jaman
dahulu.
Mitos ini diketahui berkembang dari
kisah Panji Laras dan Panji Liris anak dari seorang Adipati Lamongan. Konon,
Adipati Kediri mempunyai 2 putri kembar, yakni Dewi Andansari dan Dewi
Andanwangi. Kala itu juga, tersiar kabar, Adipati Lamongan, Raden Panji
Puspokusumo, memiliki putra kembar. Mereka adalah Panji Laras dan Panji Liris.
“Raden Panji Puspokusumo itu keturunan
Raja Majapahit ke-14 Hayam Wuruk”. Dijelaskan, Adipati Kediri yang mengetahui
kabar tersebut, ingin menjadi besan Adipati Lamongan. Merasa heran dengan
permintaan itu, Raden Panji Puspokusumo mengajukan beberapa persyaratan.
Persyaratan yang harus dipenuhi Adipati Kediri antara lain:
- Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi harus memeluk Islam;
- Mempelai wanita yang harus melamar pihak pria;
- Mempelai wanita harus datang ke Lamongan dengan membawa hadiah berupa gentong air dan alas tikar yang terbuat dari batu.
![]() |
| Hadiah yang dibawa oleh Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi |
Adipati Kediri setuju dengan semua
persyaratan dari Adipati Lamongan. Singkat cerita, Dewi Andansari dan Dewi
Andanwangi berangkat ke Lamongan diiringi rombongan. Sedangkan Panji Laras dan
Panji Liris menjemput iring-iringan di tapal batas Lamongan. Sesuai perintah
Ayahnya, mereka berdua pergi ditemani Patih Lamongan, Ki Patih Mbah Sabilan.
Siapa sangka, Lamongan saat itu dalam
kondisi banjir. Hal itu membuat Andansari-Andanwangi mengangkat kain yang
dikenakan hingga terlihat bagian kaki sampai paha. Kondisi itu membuat kaki
Andansari-Andanwangi yang berbulu lebat terlihat oleh Panji Laras dan Panji
Liris. Pada akhirnya “Panji Laras dan Panji Liris menolak menikahi mereka serta
meminta rencana pernikahannya dibatalkan,”.
Andansari-Andanwangi yang mendengar
lamaran dibatalkan, merasa terhina dan malu. Mereka memutuskan untuk bunuh diri
di hadapan putra kembar Raden Panji Puspokusumo. Kabar mengejutkan itu sampai
di telinga warga Kediri. Mereka murka dan mengibarkan bendera perang. Panji
Laras-Liris, Ki Patih Mbah Sabilan, dan Raden Panji Puspokusumo terbunuh dalam
perang tak terhindarkan itu.
Namun sebelum gugur, Adipati Lamongan,
Raden Panji Puspokusumo sempat berpesan agar anak cucunya tidak ada yang
menikah dengan orang Kediri. Pesan inilah yang melatarbelakangi munculnya mitos
larangan menikah antara orang Lamongan dan Kediri. Selain itu berdasarkan kisah
ini juga, tradisi wanita melamar pria di Lamongan berkembang dan melekat sampai
saat ini pada masyarakat di beberapa daerah Lamongan. Sedangkan seserahan yang
dibawa oleh Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi masih disimpan di depan Masjid
Agung Lamongan sampai saat ini, yang berupa gentong dan alas tikar batu.



Tidak ada komentar untuk "Kisah Panji Laras dan Panji Liris : Dari Wanita Melamar Pria Sampai Larangan Menikah antara Orang Lamongan dan Kediri"
Posting Komentar