Kebudayaan Betawi dan Cina Benteng



Cina Benteng Kampung Sewan Lebak Wangi

Perkampungan Cina Benteng ini terletak di salah satu titik yang ada di wilayah Kampung Sewan. Wilayah Kampung Sewan itu sendiri merupakan salah satu wilayah yang terdapat di kecamatan Neglasari. Kampung Sewan terbagi pula dalam beberapa wilayah, seperti Sewan Lebak Wangi, Sewan Rawa Kucing, Sewan Tanah Asem (Kahuripan), Sewan Rawa Bali, dan Sewan Kebon. Sementara perkampungan Cina Benteng terletak di wilayah Sewan Lebak Wangi. Nama Kampung Sewan berdasarkan penuturan masyarakat sekitar berasal dari kata “sewaan” yang berarti tanah yang disewa. Lambat laun pengucapan kata “sewaan” berubah menjadi “Sewan” yang menjadi nama dari wilayah ini.

Pada masa lampau, tanah-tanah yang ada di Sewan Lebak Wangi digunakan untuk aktivitas pertanian dengan masa panen satu kali dalam setahun. Sawah-sawah yang digunakan untuk produksi hasil pertanian disebut sebagai sawah darat. Namun saat ini sawah-sawah tersebut telah menjadi pemukiman, bahkan tidak sedikit juga yang telah dijual kepada pihak lain untuk dimanfaatkan dalam bentuk lain. Begitu pula yang terjadi pada perkampungan Cina Benteng ini. Setelah para orang tua meninggal dan mewariskan tanah-tanah yang dimiliki kepada anak-anak mereka, tidak lagi dilanjutkan untuk aktivitas pertanian. Saat ini tidak lagi dapat dijumpai aktvitas pertanian di wilayah Sewan Lebak Wangi, khususnya pada perkampungan Cina Benteng. Mata pencaharian warga setempat juga telah berubah, tidak lagi bertani akan tetapi telah banyak yang menjadi karyawan di perusahaan, berdagang, dan sebagainya.

Perkampungan Cina Benteng ini merupakan salah satu wilayah yang menggunakan bahasa Betawi dan juga termasuk wilayah persebaran kebudayaan Betawi. Chaer (2015) menjabarkan beberapa wilayah tersebut, pada wilayah Kabupaten Tangerang mencakup Kecamatan Mauk, Sepatan, Teluk Naga, Batu Ceper, Tangerang, Ciledug, Cipondoh, Pondok Aren, dan Serpong. Sebelumnya perkampungan Cina Benteng termasuk dalam kecamatan Batu Ceper, kelurahan Neglasari. Namun setelah mengalami pemekaran wilayah, saat ini perkampungan Cina Benteng berada di kecamatan Neglasari, kelurahan Mekarsari. Letak perkampungan Cina Benteng ini persis di seberang kantor kecamatan Neglasari. Terdapat gapura bernuansa Tionghoa yang bertuliskan Perkumpulan Tjong Tek Bio ketika hendak memasuki perkampungan wilayah Cina Benteng. Rumah-rumah yang ada di perkampungan ini sudah hampir seluruhnya dibangun permanen dan modern. Akan tetapi yang sangat khas di perkampungan ini adalah pada setiap rumah terdapat kertas bertuliskan huruf kanji Cina yang ditempelkan diatas pintu masuk. Selain itu juga terdapat bakcang yang juga digantungkan diatas pintu. Keduanya befungsi sebagai jimat untuk mengalau hal-hal buruk yang dapat masuk kedalam rumah.

Warga perkampungan ini hampir seluruhnya merupakan etnis Tionghoa yang lahir dan tumbuh besar di perkampungan ini. Tidak seperti kawasan pecinan lain yang warganya merupakan etnis Tionghoa dari luar wilayah setempat. Oleh karena itu, ketika ada pemakaman, beberapa warga menguburkan keluarganya di tanah milik mereka sendiri. Beberapa warga perkampungan Cina Benteng ini merupakan warga yang harus terpaksa pindah karena rumah mereka yang sebelumnya berada diatas tanah pengairan telah digusur. Letak tanah pengairan tersebut tepat bersebelahan dengan perkampungan Cina Benteng.

Selain melakukan aktivitas pertanian, pada masa lampau warga di perkampungan Cina Benteng menangkap ikan dengan menggunakan jala di sungai, namun saat ini sudah tidak ada lagi ikan di sungai tersebut karena airnya keruh akibat limbah pabrik. Satu persatu pabrik mulai didirikan di Kota Tangerang, sehingga membuatnya menjadi kota industri. Keberadaan pabrik-pabrik ini membuat sungai-sungai yang ada di Kota Tangerang lambat laun menjadi tercemar limbahnya. Selain itu juga tidak jarang pabrik tersebut membuat air sungai tersebut menjadi kering karena digunakan untuk kebutuhan produksi. Salah satu pabrik yang sudah lama berdiri dan menggunakan air sungai untuk kebutuhan produksi adalah pabrik Istem yang bergerak dalam bidang industri tekstil. Ketika penampungan air yang berada didalam pabrik tersebut kering airnya, maka air sungai akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Terdapat sebuah Klenteng dan Wihara di tengah-tengah perkampungan ini, yakni Klenteng Hok Tek Tjeng Sin yang letaknya bersebelahan dengan Wihara Mahabodhi. Keduanya mejadi pusat kegiatan keagamaan warga perkampungan Cina Benteng. Meski menjadi pusat kegiatan keagamaan, tidak banyak yang datang ke Klenteng Hok Tek Tjeng Sin untuk melakukan sembahyang. Adapun beberapa orang yang datang untuk sembahyang seperti dari perkumpulan Tjong Tek Bio, tetapi tidak lebih ramai dibandingkan dengan orang-orang yang beribadah di Wihara Mahabodhi. Klenteng ini hanya ramai pada acara-acara tertentu, seperti hari raya Imlek. Pada dasarnya selain sebagai tempat ibadah, Klenteng ini diharapkan dapat menjadi tempat untuk mempelajari kebudayaan masyarakat Cina Benteng di perkampungan ini. Akan tetapi karena kepengurusan yang ada saat ini tidak berjalan dengan baik, maka fungsi yang diharapkan tidak dapat berjalan. Lain halnya dengan Wihara Mahabodhi yang selau ramai didatangi jemaat setiap mingu dan secara rutin melakukan kegiatan keagamaan di tempat ini.

Sebelumnya Wihara Mahabodhi bergabung Klenteng Hok Tek Tjeng Sin, namun saat ini keduanya terpisah karena terdapat perbedaan dalam ibadah yang dilakukan. Klenteng Hok Tek Tjeng Sin biasanya hanya didatangi oleh warga sekitar atau perkumpulan Tjong Tek Bio untuk sembahyang dan perayaan-perayaan rutin seperti pada hari raya Imlek. Lain halnya dengan Wihara Mahabodhi yang secara rutin menggelar ibadah setiap minggu.

Setiap hari minggu area depan Klenteng berubah menjadi pasar yang menjual berbagai bahan makanan. Pasar ini hanya ada seminggu sekali, mulai dari pukul 06.00 hingga 10.00 pagi hari. Warga perkampungan Cina Benteng ini menyebutnya dengan “pasar kaget”. Hampir semua pedagangnya adalah warga diluar perkampunga Cina Benteng dan bukan etnis Tionghoa. Namun ada pula beberapa pedagang yang memang merupakan warga setempat. bahan-bahan makanan seperti sayur-sayuran, ikan, ayam, daging, dan sebagainya diperdagangkan di pasar tersebut. Ada pula pedagang yang menjual berbagai makanan siap santap.

Meskipun sebagian besar warga perkampungan Cina Benteng adalah orang-orang yang lahir dan besar di Tangerang, khususnya perkampungan ini, tradisi-tradisi peranakan tidak lagi sering dijumpai. Khususnya pada seni musik tradisional yang saat ini sudah jarang digunakan dalam acara-acara seperti pernikahan, khitanan, dan perayaan lainnya. Jika pada masa lampau Gambang Kromong dan Tari Cokek menjadi hiburan yang wajib ada pada setiap acara, maka saat ini sudah jarang ditemukan dan terganti dengan musik-musik modern.

Pementasan Gambang Kromong dan Tari Cokek lebih mudah dijumpai di Kabupaten Tangerang, dimana wilayah tersebut juga menjadi wilayah persebaran warga Cina Benteng. Pada pesta pernikahan, khususnya yang diselenggarakan oleh warga Cina Benteng di beberapa wilayah Kabupaten Tangerang masih sering menggunakan Gambang Kromong dan Tari Cokek sebagai hiburan. Berbeda dengan warga perkampungan Cina Benteng Lebak Wangi yang saat ini sudah jarang melakukan upacara pernikahan tradisional Cina Benteng. Gambang Kromong dan Tari Cokek telah tergantikan dengan hiburan modern seperti orkes dangdut yang lebih mudah dijumpai pada acara-acara seperti pernikahan dan perayaan lainnya. Bahkan di perkampungan ini tidak terdapat sanggar Gambang Kromong maupun Tari Cokek.

Masyarakat Cina Benteng

Kota Tangerang merupakan salah satu wilayah persebaran masyarakat Cina Benteng. Mereka yang disebut sebagai Cina Benteng ini adalah orang-orang keturunan Tionghoa yang tinggal di belakang benteng yang pada masa kolonial berada di tepian sungai Cisadane. Berdasarkan jejak sejarah yang terekam di museum Benteng Heritage, benteng tersebut sudah tidak lagi dapat dijumpai karena sudah tergantikan dengan gedung Robinson yang masih berfungsi hingga saat ini. Saat ini benteng tersebut diabadikan sebagai nama jalan, yakni Jalan Benteng Makassar. Dinamakan demikian karena pada masa kolonial benteng tersebut dijaga oleh orang-orang Makassar, dikarenakan pihak Belanda lebih mempercayai orang-orang Makassar dibandingkan dengan warga Tangerang.

Jejak sejarah yang ada pada museum Benteng Heritage juga menjelaskan bahwa orang-orang Cina Benteng bukanlah merupakan keturunan dari Laksamana Ceng Ho. Orang-orang Cina Benteng adalah keturunan dari Chen Ci Lung yang merupakan salah satu anak buah dari Laksamana Ceng Ho. Pada saat melakukan pelayaran, ia mendarat di Teluk Naga dan menikah dengan perempuan setempat yang pada masa itu disebut sebagai warga pribumi, serta membuka pertanian di tepian kali Cisadane. Area Bandara Soekarno Hatta pada masa lampau merupakan lahan pertanian yang digarap oleh warga Cina Benteng.

Orang-orang Cina Benteng hingga saat ini juga masih banyak dijumpai di beberapa wilayah kota Tangerang. Sewan Lebak Wangi dan Pasar Lama merupakan sebagian wilayah yang dihuni oleh orang-orang Cina Benteng. Pada masa lampau, Pasar Lama merupakan pusat kota yang juga menjadi pusat kegiatan ekonomi. Wilayah ini menjadi penggerak ekonomi kota Tangerang kala itu, mulai dari kios yang menjual berbagai macam barang kebutuhan, jasa dokter gigi, penjahit pakaian, bioskop, dan lain-lain.

Pada tahun 1940-an, kegiatan ekonomi di kota Tangerang dapat dikatakan sudah cukup ramai, ditandai dengan adanya produk asing yang sudah mulai masuk ke wilayah ini, seperti Shell. Bioskop Merdeka juga menjadi salah satu penggerak kegiatann ekonomi. Pemutaran film-film Bollywood yang kala itu tengah digemari masyarakat menjadi salah satu bentuk kegiatan ekonomi pada masa itu. Selain itu di kota Tangerang terdapat sebuah pabrik kecap Benteng dan kecap SH. Pabrik kecap ini dijalankan oleh orang-orang dari Tionghoa dan keturunan Tionghoa itu sendiri. Sehingga Tangerang sebelumnya memang terkenal dengan keberadaan pabrik kecap yang dikelola oleh etnis Tionghoa dan keturunannya. Pada awalnya kecap yang dibawa dari Tionghoa memiliki rasa asin. Karena masyarakat Indonesia tidak begitu menyukai rasa asin, maka pada pembuatannya kecap tersebut ditambahkan gula merah sehingga menjadi kecap manis. Pabrik tersebut masih berdiri hingga saat ini, dan menjadi salah satu warisan bagi warga keturunan Tionghoa.

Beberapa bangunan khas etnis Cina masih dengan mudah dijumpai di beberapa wilayah, meskipun saat ini banyak yang telah berubah fungsi. Pada masa lampau mayoritas etnis Tionghoa tinggal di wilayah Pasar Lama dan menjadi salah satu aktor utama penggerak ekonomi kota Tangerang. Berdagang menjadi mata pencaharian bagi sebagian besar etnis Tionghoa, sehingga banyak usaha-usaha yang diteruskan kepada generasi selanjutnya. Hingga saat ini Pasar Lama merupakan daerah pecinan yang ada di Kota Tangerang.

Beberapa tradisi atau kebiasaan warga Cina Benteng masih dapat dijumpai di kota Tangerang. Salah satunya adalah keberadaan rumah kawin yang menjadi tempat dilaksanakannya pernikahan tradisional warga Cina Benteng yang disebut juga upacara Cio Tao atau budaya perjodohan bagi warga Cina Benteng. Pernikahan tradisional warga peranakan Tionghoa ini telah bercampur dengan unsur-unsur Betawi. Salah satu rumah kawin yang masih ada dan berfungsi hingga saat ini adalah Rumah Kawin 9 (Sembilan) Saudara yang berada di daerah Dadap, dimana pada daerah ini juga dihuni kelompok masyarakat Cina Benteng.

Eksistensi kelompok masyarakat Cina Benteng tidak hanya dapat dilihat melalui benda-benda seperti arsitektur bangunan, maupun ritual-ritual yang rutin diselenggarakan. Salah satu bentuk dari eksistensi masyarakat Cina Benteng dapat dilihat melalui sosok Oei Kim Tiang. Ia adalah warga keturunan Tionghoa kelahiran Tangerang yang menjadi seorang penerjemah kisah-kisah berbahasa mandarin. Beberapa karyanya yang populer antara lain Xi Cim Tui dan Sun Go Kong. Selain itu pada rumah-rumah peninggalan orang Tionghoa banyak ditemukan mangkuk-mangkuk pecah, dan saat ini benda tersebut tergolong benda antik. Mangkuk-mangkuk tersebut bukanlah sampah atau barang yang tidak berguna. Penemuan mangkuk-mangkuk ini mengungkapkan bahwa orang-orang Tionghoa pada masa lampau tidak membuang mangkuk-mangkuk pecah ini, melainkan disimpan untuk direkatkan kembali hingga menjadi mangkuk yang utuh dan dapat dipakai. Tujuan dari kebiasaan ini adalah agar waktu luang tidak terbuang sia-sia.

Hingga saat ini terdapat sebuah perayaan atau festival yang dirayakan oleh masyarakat Cina Benteng, yakni festival Peh Cun. Kegiatannya berupa perlombaan perahu naga yang diselenggarakan di kali Cisadane. Meskipun merupakan perayaan warga Cina Benteng, namun siapa saja diperbolehkan untuk mengikuti festival ini. Orang-orang yang menghadiri festival tersebut diperbolehkan untuk menangkap bebek sumbangan dari Klenteng Boen Tek Bio yang dilepaskan di kali Cisadane. Setiap tahunnya festival ini diadakan pada tanggal 5 di bulan ke lima kalender Cina, atau bulan ke enam penanggalan masehi (bulan Juni). Pada tahun 1965 kegiatan ini dilarang oleh pemerintah setempat terkait dengan isu PKI yang memberikan stigma bagi masyarakat Tionghoa. Pada masa-masa inilah seluruh kegiatan yang dilakukan oleh etnis Tionghoa dilarang oleh pemerintah. Namun setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, pelaksanaan festival ini kembali diperbolehkan.

Klenteng Boen Tek Bio adalah salah satu Klenteng besar yang ada di Tangerang. Klenteng ini selain digunakan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat etnis Tionghoa ataupun Cina Benteng, juga sebagai tempat bersejarah yang menjadi saksi keberadaan dan eksistensi etnis Tionghoa dan peranakan di kota Tangerang. Klenteng ini berfungsi sebagai tempat pengenalan dan pembelajaran budaya masyarakat etnis Tionghoa. Namun saat ini struktur kepengurusan yang sedang kacau membuat Klenteng ini tidak lagi dapat berfungsi sebagai tempat untuk mempelajari budaya etnis Tionghoa dan peranakan.

Kebudayaan Cina dan Betawi

Kedatangan bangsa asing ke wilayah Tangerang membuat beberapa kebudayaan mengalami percampuran. Dalam bukunya yang berjudul Betawi Tempo Doeloe, Chaer (2015) menjelaskan bahwa masyarakat Betawi yang kampung halamannya terbentang antara sungai Cisadane di sebelah Barat, dan sungai Citarum di sebelah timur, sejak abad-abad pertama telah didatangi oleh berbagai bangsa dari Asia, Seperti India, Cina, Arab, dan Gujarat. Setelahnya barulah bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda datang. Masyarakat lokal yang disebut sebagai etnis Betawi itu sendiri pada dasaranya bukanlah warga asli dari wilayah tersebut. Pendekatan sejarah menyatakan bahwa orang Betawi atau etnis Betawi adalah etnis yang lahir dari percampuran pernikahan berbagai etnis yang ada di Batavia pada abad ke-17 dan ke-18 (Chaer, 2015: 11).

Dengan kedatangan bangsa-bangsa asing, maka percampuran budaya pun terjadi, sehingga memberikan pengaruh pada unsur-unsur budaya Betawi yang ada. Budaya Cina adalah salah satu unsur yang membentuk masyarakat Betawi. Percampuran tersebut dapat dilihat dalam berbagai aspek, salah satunya yang paling nampak jelas adalah bahasa. Pengaruh budaya Cina dalam bahasa terlihat dari beberapa kosakata yang digunakan, seperti pada kata bakpao dan bakso. Selain itu celana pengsi, baju koko, dan kebaya encim, serta alat-alat musik dalam perangkat musik Gambang Kromong (Chaer, 2015:22).

Jika dilihat dari sejarah yang ada, interaksi antar etnis telah terjalin sehingga menghasilkan budaya-budaya yang masih dapat terlihat hingga saat ini. Begitu pula dengan interaksi-interaksi yang terjalin itu dapat tergambar melalui kehidupan masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat etnis lain. Dalam dunia kesenian, misalnya pada sebuah orkes Gambang Kromong, sebuah sanggar tidak hanya beranggotakan masyarakat Cina Benteng saja, tidak pula anggota sebuah sanggar hanya dari masyarakat Betawi, akan tetapi keduanya hadir dan berinteraksi dalam sebuah sanggar.

Gambang Kromong yang merupakan kesenian hasil percampuran dengan berbagai budaya dinikmati oleh seluruh masyarakat lintas etnis. Sanggar-sanggar yang ada pada saat itu biasanya dipimpin oleh orang Betawi atau Cina peranakan. Pada acara-acara yang digelar secara besar besaran, seperti untuk hiburan rakyat biasanya juga menggunakan Gambang Kromong sebagai hiburan. Dalam sebuah pementasan Gambang Kromong, masyarakat yang hadir tidak hanya sekedar menikmati suguhan hiburan tersebut, tetapi juga untuk saling berinteraksi.

Chaer (2015: 342) menjelaskan bahwa tempo dulu, para penari Cokek beserta orkes Gambang Kromongnya dibina dan dikembangkan oleh para tuan tanah Cina yang kaya raya. Sampai sebelum Perang Dunia II, kelompok kesenian Cokek ini dimiliki oleh cukong-cukong golongan Cina peranakan. Cukong-cukong inilah yang membiayai kehidupan para seniman Gambang Kromong dan para penari Cokeknya. Kehadiran penari Cokek adalah salah satu yang paling dinantikan kehadirannya. Penari Cokek biasanya hadir sebagai pelengkap orkes Gambang Kromong. para penari Cokek tidak hanya dari orang-orang Betawi atau Cina peranakan saja, bahkan banyak penarinya yang berasal dari luar daerah seperti Jawa Barat. Beberapa penari yang sudah menjadi idola selalu dinantikan penampilannya, bahkan tidak jarang terjadi perkelahian antar penonton karena memperebutkan para penari Cokek. Pementasan Gambang Kromong dan tari Cokek pada masa lampau seringkali dilakukan pada Lebaran Belande (perayaan tahun baru Masehi) dan pada Lebaran Cine (perayaan tahun baru Imlek), selain itu juga pada perayaan Cap Go Meh (Chaer, 2015: 323).

MIG SHORT TRAVEL
MIG SHORT TRAVEL NGGAK USAH DI BACA NANTI BAPER

Tidak ada komentar untuk "Kebudayaan Betawi dan Cina Benteng"