Perjalanan ke Gunung Kelud : Rea-reo Pasca Erupsi 13 Februari 2014
"Ini adalah sebuah catatan perjalanan dan sekaligus sebuah kenangan bersama teman-teman seperjuangan di Malang"
Sebuah kontemplasi kebersamaan

Pada tanggal 13 Februari 2014, menjadi
hari yang mungkin tidak dapat dilupakan oleh masyarakat Kediri, Blitar, dan
Sekitarnya. Bagaimana tidak, hari itu telah terjadi erupsi dari gunung Kelud
yang letaknya di perbatasan antara Kediri dan Blitar. Gunung tersebut seketika
memuntahkan material yang jumlahnya tidak sedikit, bahkan letusannya
menyebabkan fasilitas umum di beberapa daerah di sebagian pulau Jawa mengalami
kendala. Letusan gunung kelud pada 13 Februari ini sempat menjadi bencana
nasional karena efeknya yang sangat signifikan di berbagai daerah.

Tepat genap 7 bulan setelah letusan
tersebut yaitu pada tanggal 13 September 2014, suatu kesengajaan bagi saya dan
beberapa teman saya (Ponco Nyot, Irfan Bajul, Romdan Romi, Rifqi Lurah, Zafas
Jambrong) untuk mengunjungi Gunung Kelud pasca erupsi hebat kemarin. Selain
kami ingin melepas kepenatan dengan touring bersepeda motor atau istilah keren
kami “rea-reo”, kami juga ingin tahu bagaimana keadaan Gunung Kelud beberapa
bulan pasca erupsi yang tercatat sebagai bencana nasional tersebut. Karena saat
bencana itu terjadi tak hanya daya ledak ke angkasa yang fenomenal, lontaran
pasir dan debu vulkanik yang menyebar hingga ke kawasan Jawa Barat menjadi
ukuran kedahsyatan letusan ini. Bahkan, akibat tingginya intensitas debu,
sejumlah bandara di Pulau Jawa terpaksa berhenti beroperasi. Itulah yang
menjadi latar belakang keingintahuan kami bagaimana keadaan lokasi setelah
bencana itu terjadi.
Kami start sore hari dari Kota Malang pada tanggal 12 September dengan pasukan seadanya, dan istirahat sementara di Kandangan Kediri. Esok harinya kami start perjalanan untuk menuju lokasi Gunung Kelud. Sepanjang perjalanan sebelum sampai di pintu masuk Gunung Kelud kami melihat banyak hamparan kebun-kebun nanas warga yang sudah mulai siap panen. Sepertinya masyarakat sudah mulai recovery dari bencana besar tersebut dan hidup seperti biasa di bawah bayang-bayang puncak kelud dalam kurun waktu 7 bulan.


Sesampainya kita di pintu masuk menuju
Gunung Kelud kami beristirahat sementara untuk melepas lelah, karena saat itu
sedang musim kemarau panjang dan terik matahari begitu panas. Setelah
beristirahat kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi. Sepanjang perjalanan di
lereng Kelud pemandangan masih snagat gersang, hampir tidak ada tanaman yang
menghijau, yang terlihat adalah hamparan leren gunung yang masih porak-poranda.
Bekas-bekas erupsi pun masih jelas terlihat, bekas-bekas aliran lahar juga
dengan jelas dapat kita amati.

Sesampainya kita di atas, kita harus
parkir di pinggir jalan dikarenakan akses ke lokasi kelud masih dalam
perbaikan. Terlihat banyak sekali pekerja yang sedang merenovasi akses ke
gunung tersebut. Setelah parkir, kita masih harus berjalan kaki sejauh 5 km-an
ke bagian atas gunung. Sesampainya di atas, kita tidak bisa melanjutkan lagi
karena jalur arah ke kawah sudah putus dan di beri garis kuning sebagai tanda
akhir. Dari sini kita bisa melihat bagaimana kehebatan letusan Kelud 7 bulan
yang lalu, gunung sebesar itu hancur porak-poranda, yang terlihat saat itu
hanya gunung yang gersang dan panas.


Perjalanan yang sangat memorable
BalasHapus